• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Monday, June 8, 2026
  • Login
Portallnews.id
Advertisement
  • Beranda
  • News
  • Hukum & Kriminal
  • E-Magazine
  • Politik
  • Lampung
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Kesehatan
  • Ekonomi
No Result
View All Result
Portallnews.id
  • Beranda
  • News
  • Hukum & Kriminal
  • E-Magazine
  • Politik
  • Lampung
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Kesehatan
  • Ekonomi
No Result
View All Result
Portallnews.id
No Result
View All Result
Home Headline

Alarm Untuk Masa Depan Bangsa

Refleksi

by portall news
June 8, 2026
in Headline
Negeri (para) Maling

Prof. Dr. Sudjarwo, M.S.

106
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Oleh: Sudjarwo,Guru Besar Universitas Malahayati

PORTALLNEWS.ID (Bandar Lampung) – Beberapa hari lalu seorang sohib mantan ketua organisasi guru terbesar di negeri ini, mengirim artikel dari salah satu harian ternama dunia. Isi artikel itu mendedah bagaimana hasil Tes Kemampuan Akademik yang dilaksanakan beberapa waktu lalu. Membacanya menjadi miris karena mengingat negeri ini, saat ini, masih sibuk dengan urusan perut, belum urusan literasi dan numerasi. Program yang jelas sebagai peta jalan lurus untuk membangun bangsa ini, sampai hari ini masih bongkarpasang dan diperdebatkan. Alih-alih untuk menjalankannya, jalannya sendiri belum tampak ada.

Hasil ini seharusnya menjadi alarm keras bagi masa depan bangsa. Persoalan ini tidak bisa dipandang sebagai sekadar masalah pendidikan yang hanya menjadi urusan sekolah atau guru. Rendahnya kemampuan memahami bacaan, mengolah informasi, dan menggunakan logika angka sesungguhnya merupakan cerminan kualitas sumber daya manusia yang akan menentukan arah kemajuan bangsa dalam beberapa dekade mendatang. Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka bangsa ini berisiko menghadapi masa depan yang penuh ketertinggalan di tengah persaingan global yang semakin ketat.

Baca Juga

Brimob Sisir Lampung Timur, Antisipasi Begal dan Curanmor

Pemkot Bandar Lampung Biayai Full Pemindahan Siswa SMA Siger ke Sekolah Swasta

LBH Lampung Soroti Kematian Terduga Pelaku, Desak Investigasi Transparan

Literasi dan numerasi merupakan fondasi utama dalam membangun masyarakat modern. Literasi tidak hanya berarti mampu membaca huruf dan kata, tetapi juga memahami makna, menganalisis informasi, serta menggunakannya untuk mengambil keputusan yang tepat.

Sementara itu, numerasi bukan hanya kemampuan berhitung, melainkan kemampuan memahami data, pola, perbandingan, dan logika yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Kedua kemampuan ini menjadi syarat dasar untuk menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, bahkan kehidupan sosial dan politik.

Ironisnya, ketika dunia bergerak menuju era digital, kecerdasan buatan, dan ekonomi berbasis pengetahuan, bangsa ini masih bergulat dengan persoalan yang sangat mendasar. Sebagian besar masyarakat masih disibukkan oleh urusan perut. Banyak keluarga harus bekerja keras setiap hari hanya untuk memenuhi kebutuhan makan, biaya tempat tinggal, dan kebutuhan hidup lainnya. Dalam situasi seperti itu, pendidikan sering kali menjadi prioritas kedua. Membaca buku, berdiskusi tentang ilmu pengetahuan, atau melatih kemampuan berpikir kritis dianggap tidak sepenting mencari penghasilan untuk bertahan hidup.

Kondisi tersebut melahirkan lingkaran yang sulit diputus. Keterbatasan ekonomi menyebabkan akses terhadap pendidikan berkualitas menjadi tidak merata. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan dengan keterbatasan sumber belajar memiliki peluang lebih kecil untuk mengembangkan kemampuan literasi dan numerasi secara optimal. Ketika mereka dewasa, keterampilan yang terbatas membuat kesempatan memperoleh pekerjaan dengan penghasilan tinggi juga semakin kecil. Akibatnya, siklus kemiskinan dan rendahnya kualitas pendidikan terus berulang dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dampak dari rendahnya literasi tidak hanya terlihat di ruang kelas, tetapi juga dalam kehidupan masyarakat secara luas. Kemampuan memahami informasi yang rendah membuat sebagian orang kesulitan membedakan fakta dan opini. Mereka lebih mudah percaya pada informasi yang belum tentu benar, terpengaruh oleh berita palsu, atau mengambil keputusan berdasarkan emosi daripada penalaran. Dalam masyarakat yang semakin dipenuhi arus informasi digital, kelemahan literasi dapat menjadi ancaman serius karena memengaruhi kualitas cara berpikir dan cara mengambil keputusan.

Di sisi lain, rendahnya numerasi juga membawa konsekuensi yang besar. Kemampuan memahami angka dan data sangat penting dalam kehidupan modern. Mulai dari mengelola keuangan rumah tangga, menghitung keuntungan usaha, memahami statistik kesehatan, hingga membaca tren ekonomi, semuanya membutuhkan kemampuan numerasi yang memadai. Ketika masyarakat tidak terbiasa berpikir logis dan memahami data, mereka akan lebih rentan mengambil keputusan yang merugikan diri sendiri maupun lingkungan sekitarnya.

Tantangan ini menjadi semakin mengkhawatirkan karena masa depan dunia kerja akan sangat bergantung pada kemampuan berpikir tingkat tinggi. Banyak pekerjaan yang bersifat rutin secara perlahan akan digantikan oleh teknologi. Yang dibutuhkan pada masa depan adalah manusia yang mampu menganalisis informasi, memecahkan masalah, berinovasi, dan beradaptasi terhadap perubahan. Semua kemampuan tersebut berakar pada literasi dan numerasi yang kuat. Tanpa fondasi itu, generasi muda akan kesulitan bersaing tidak hanya dengan tenaga kerja dari negara lain, tetapi bahkan dengan perkembangan teknologi itu sendiri.

Kemajuan suatu bangsa tidak ditentukan semata-mata oleh kekayaan sumber daya alam atau jumlah penduduk yang besar. Sejarah menunjukkan bahwa banyak negara mampu menjadi maju karena berhasil membangun kualitas manusianya. Mereka menjadikan pendidikan sebagai investasi jangka panjang yang tidak dapat ditawar. Sebaliknya, negara yang gagal meningkatkan kualitas pendidikan akan kesulitan keluar dari berbagai persoalan sosial dan ekonomi meskipun memiliki potensi sumber daya yang melimpah.
Karena itu, rendahnya literasi dan numerasi harus dipandang sebagai persoalan strategis nasional.

Perbaikannya tidak cukup hanya melalui perubahan kurikulum atau peningkatan nilai ujian. Yang dibutuhkan adalah perubahan cara pandang bahwa pendidikan merupakan kebutuhan mendasar, sama pentingnya dengan kebutuhan ekonomi. Negara harus mampu menciptakan kondisi yang membuat masyarakat tidak hanya sibuk memikirkan bagaimana makan hari ini, tetapi juga memiliki kesempatan mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Ketika kesejahteraan meningkat, perhatian terhadap pendidikan juga akan tumbuh lebih kuat.

Keluarga, sekolah, masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah harus mengambil peran yang saling melengkapi. Budaya membaca perlu dibangun sejak dini. Akses terhadap buku dan sumber belajar harus diperluas. Pembelajaran harus mendorong kemampuan berpikir kritis, bukan sekadar menghafal. Anak-anak perlu dibiasakan bertanya, menganalisis, dan menyelesaikan masalah secara mandiri. Upaya-upaya tersebut mungkin tidak memberikan hasil instan, tetapi akan menjadi investasi yang menentukan kualitas bangsa dalam jangka panjang.

Rendahnya numerasi dan lemahnya literasi bukan sekadar angka dalam laporan pendidikan. Di balik angka-angka tersebut tersimpan gambaran tentang masa depan bangsa. Jika persoalan ini terus diabaikan, bangsa ini dapat kehilangan kesempatan untuk menjadi pemain penting dalam dunia yang semakin kompetitif. Namun jika dijadikan prioritas bersama, literasi dan numerasi dapat menjadi fondasi kuat untuk melahirkan generasi yang cerdas, produktif, kreatif, dan mampu membawa bangsa menuju kemajuan yang berkelanjutan. Masa depan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengisi perut hari ini, tetapi juga oleh kemampuan menyiapkan pengetahuan untuk menghadapi hari esok.
Salam Waras. (R-1)

Previous Post

Brimob Sisir Lampung Timur, Antisipasi Begal dan Curanmor

No Result
View All Result

Recent Posts

  • Alarm Untuk Masa Depan Bangsa
  • Brimob Sisir Lampung Timur, Antisipasi Begal dan Curanmor
  • Pemkot Bandar Lampung Biayai Full Pemindahan Siswa SMA Siger ke Sekolah Swasta
  • LBH Lampung Soroti Kematian Terduga Pelaku, Desak Investigasi Transparan
  • Geliat Bayang-Bayang Sang Mantan

Recent Comments

  • portall news on British Propolis Dapat Mengobati Berbagai Penyakit Ini
  • Icha on British Propolis Dapat Mengobati Berbagai Penyakit Ini
Portallnews.id

© 2020 Portallnews.id

PORTALLNEWS.ID hadir ke tengah masyarakat memberikan sajian berita yang berkualitas dan berimbang.

  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Hukum & Kriminal
  • E-Magazine
  • Politik
  • Lampung
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Kesehatan
  • Ekonomi

© 2020 Portallnews.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist