• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Sunday, July 26, 2026
  • Login
Portallnews.id
Advertisement
  • Beranda
  • News
  • Hukum & Kriminal
  • E-Magazine
  • Politik
  • Lampung
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Kesehatan
  • Ekonomi
No Result
View All Result
Portallnews.id
  • Beranda
  • News
  • Hukum & Kriminal
  • E-Magazine
  • Politik
  • Lampung
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Kesehatan
  • Ekonomi
No Result
View All Result
Portallnews.id
No Result
View All Result
Home Headline

Kepemimpinan Versi Sinom Parijotho

Refleksi

by portall news
July 26, 2026
in Headline
Negeri (para) Maling

Prof. Dr. Sudjarwo, M.S.

109
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Oleh: Sudjarwo, Guru Besar Universitas Malahayati

PORTALLNEWS.ID (Bandar Lampung) – Sinom Parijotho, dua kata ini familiar di masyarakat Jawa sebagai syair puitis dengan iringan musik lembut khas orkestra Jawa, gending karawitan. Suara rebab (alat musik gesek) memulai dengan nada basso. Lalu, seluruh perangkat gamelan, dari gendang, saron, gambang, kenong, gong, siter, bahkan hingga kecipak telapak tangan para pesinden menimpali sehingga nada-nada membentuk irama indah.

Tulisan ini bukan membedah musiknya, tetapi filosofi yang dipesankan oleh alunan nada dan syair yang diciptakan oleh Sunan Muria (Raden Umar Said), utamanya dalam konsep kepemimpinan. Sebab, secara etimologis, sinom parijotho tidak memuat makna Istimewa. Sinom dimaknakan sebagai masa trubus atau tumbuh pada suatu tanaman, yang kemudian juga bersulih arti sebagai tembang. Sedangkan parijotho adalah nama tumbuhan perdu yang umum tumbuh di pegunungan.

Baca Juga

IJTI Ingatkan Presiden Jaga Marwah Pers

Program The Next Local Hero Meriahkan Hari Nyeruit Nasional

Rektor Itera Imbau Wisudawan Untuk Tidak Pernah Berhenti Belajar dan Berinovasi 

Syair sinom parijotho diawali dengan kalimat “Wong agung ing Lesanpuro…” menggambarkan sosok pemimpin yang memiliki keluhuran budi, keteguhan hati, serta kecakapan dalam memimpin masyarakat. Bait-bait berikutnya mengalir sanepan atau makna-makna simbolik yang dirangkai begitu apik. Melalui simbol dan ungkapan khas sastra Jawa, bait tersebut menekankan bahwa kebesaran seorang pemimpin tidak terletak pada kekuasaan yang dimiliki, melainkan pada kebijaksanaan, kerendahan hati, dan kemampuannya menjaga keseimbangan kehidupan bersama.

Gending Sinom Parijotho merupakan salah satu karya sastra Jawa yang mengandung ajaran etika kepemimpinan yang berakar pada filsafat Jawa adiluhung. Tembang ini tidak sekadar menghadirkan kisah tentang sosok pemimpin, melainkan menawarkan pandangan hidup mengenai bagaimana kekuasaan seharusnya dijalankan sebagai amanah yang berpijak pada nilai moral dan spiritual.

Melalui bahasa yang puitis, simbolik, dan ditembangkan dengan cengkok meliuk-liuk dari nada paling rendah hingga melengking paling tinggi, sinom tersebut mengajarkan bahwa seorang pemimpin ideal adalah pribadi yang mampu menyelaraskan kekuatan lahiriah dengan kematangan batin. Keselarasan ini membuat setiap keputusan senantiasa berorientasi pada kemaslahatan bersama. Setiap kata yang keluar dari mulutnya, terukur dan tidak menyangkitkan pihak lain.
Dalam pandangan filsafat Jawa, kepemimpinan bukanlah sarana untuk meninggikan diri, melainkan bentuk pengabdian kepada masyarakat.

Seorang pemimpin dipandang sebagai pengayom yang bertugas menciptakan ketenteraman dan menjaga keteraturan kehidupan. Oleh karena itu, kedudukan yang tinggi selalu diiringi tanggung jawab yang besar. Nilai ini sejalan dengan ajaran sepi ing pamrih, rame ing gawe, yaitu bekerja dengan sungguh-sungguh tanpa mengutamakan kepentingan pribadi. Pemimpin yang demikian akan lebih mengedepankan kesejahteraan rakyat daripada keuntungan dirinya sendiri.

Salah satu nilai utama yang tercermin dalam Gending Sinom Parijoto adalah kebijaksanaan. Dalam filsafat Jawa, kebijaksanaan lahir dari kemampuan mengolah rasa. Konsep rasa bukan sekadar perasaan, melainkan kepekaan batin untuk memahami keadaan secara mendalam. Seorang pemimpin yang memiliki rasa tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan, melainkan mempertimbangkan akibatnya bagi seluruh pihak. Dengan demikian, setiap kebijakan yang dihasilkan mencerminkan keadilan dan keseimbangan. Kebijaksanaan menjadi fondasi yang menjadikan kekuasaan tidak berubah menjadi alat penindasan, tetapi menjadi sarana menghadirkan ketenteraman.

Nilai lain yang sangat penting adalah andhap asor atau rendah hati. Dalam budaya Jawa, kerendahan hati merupakan tanda kedewasaan seseorang. Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar pula tuntutannya untuk menghargai orang lain. Pemimpin yang rendah hati akan mudah mendengar nasihat, menerima kritik, dan menghormati pendapat bawahannya. Sikap tersebut menciptakan hubungan yang harmonis antara pemimpin dan masyarakat sehingga lahir kepercayaan yang menjadi dasar kokohnya pemerintahan. Wibawa tidak diperoleh melalui rasa takut, melainkan melalui keteladanan dan keluhuran budi.

Gending Sinom Parijoto juga mengajarkan pentingnya pengendalian diri. Dalam ajaran Jawa, manusia harus mampu mengendalikan hawa nafsu agar tidak dikuasai oleh keserakahan, amarah, maupun kesombongan. Kekuasaan yang tidak disertai pengendalian diri akan mudah melahirkan penyalahgunaan wewenang. Sebaliknya, pemimpin yang mampu mengendalikan dirinya akan bersikap hati-hati dalam bertindak dan selalu mempertimbangkan nilai kebenaran. Pengendalian diri merupakan bentuk kemenangan tertinggi karena seseorang mampu menaklukkan dirinya sendiri sebelum memimpin orang lain.

Ajaran kepemimpinan dalam tembang ini juga berkaitan dengan konsep “hamemayu hayuning bawana”, yaitu menjaga dan memperindah kehidupan dunia. Prinsip ini mengajarkan bahwa setiap tindakan pemimpin harus mengarah pada terciptanya keharmonisan antara manusia, alam, dan Tuhan. Oleh sebab itu, pembangunan tidak hanya dimaknai sebagai kemajuan material, tetapi juga sebagai upaya membangun kehidupan yang adil, tenteram, dan bermartabat. Pemimpin memiliki kewajiban untuk melindungi rakyat, menjaga kelestarian alam, serta memelihara nilai-nilai budaya yang menjadi identitas masyarakat.

Selain itu, filsafat Jawa menempatkan keteladanan sebagai inti kepemimpinan. Seorang pemimpin harus menjadi contoh dalam kejujuran, kedisiplinan, kesederhanaan, dan tanggung jawab. Masyarakat lebih mudah mengikuti tindakan daripada sekadar mendengar nasihat. Oleh karena itu, perilaku pemimpin akan membentuk karakter masyarakat yang dipimpinnya. Keteladanan menjadikan kekuasaan memiliki legitimasi moral karena rakyat melihat adanya keselarasan antara perkataan dan perbuatan.

Nilai tepa salira juga menjadi bagian penting dari kepemimpinan Jawa. Tepa salira berarti kemampuan menempatkan diri pada posisi orang lain sehingga melahirkan sikap empati dan tenggang rasa. Pemimpin yang memiliki tepa salira tidak akan membuat kebijakan yang menyengsarakan masyarakat karena ia mampu merasakan dampak dari setiap keputusan. Sikap ini memperkuat nilai keadilan sekaligus menciptakan hubungan yang penuh penghormatan antara pemimpin dan rakyat.

Peringatan yang ingin disampaikan melalui gending ini adalah: Kebesaran seorang pemimpin tidak diukur dari luasnya wilayah kekuasaan ataupun kekuatan yang dimiliki, tetapi dari kemampuan mengendalikan diri, mengutamakan kepentingan bersama, serta menjaga harmoni kehidupan. Nilai-nilai seperti andhap asor, tepa salira, sepi ing pamrih rame ing gawe, dan hamemayu hayuning bawana menunjukkan bahwa kepemimpinan dalam tradisi Jawa merupakan perpaduan antara kecakapan memerintah dan kematangan spiritual.

Ajaran tersebut tetap relevan hingga masa kini sebagai pedoman etis bagi siapa pun yang mengemban amanah untuk memimpin. Kepemimpinan yang berlandaskan kebijaksanaan akan melahirkan kehidupan yang damai, adil, dan sejahtera karena setiap kebijakan selalu berorientasi pada keluhuran budi serta kemaslahatan seluruh masyarakat.
Dengan kata lain, kepemimpinan itu tidak bisa diselesaikan hanya dengan “berjoged di atas panggung, atau mencibir pihak lain, merasa diri paling benar”; karena perilaku dan perkataan pemimpin itu adalah “sabdo pandito ratu”; ucapan pemimpin itu bagai ucapan tokoh agama dan raja yang akan dijadikan panutan rakyatnya.
Salam Waras (R-1)

Previous Post

IJTI Ingatkan Presiden Jaga Marwah Pers

No Result
View All Result

Recent Posts

  • Kepemimpinan Versi Sinom Parijotho
  • IJTI Ingatkan Presiden Jaga Marwah Pers
  • Program The Next Local Hero Meriahkan Hari Nyeruit Nasional
  • Rektor Itera Imbau Wisudawan Untuk Tidak Pernah Berhenti Belajar dan Berinovasi 
  • Way Kambas Bersolek, Pemerintah Genjot Konservasi Gajah dan Wisata

Recent Comments

  • portall news on British Propolis Dapat Mengobati Berbagai Penyakit Ini
  • Icha on British Propolis Dapat Mengobati Berbagai Penyakit Ini
Portallnews.id

© 2020 Portallnews.id

PORTALLNEWS.ID hadir ke tengah masyarakat memberikan sajian berita yang berkualitas dan berimbang.

  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Hukum & Kriminal
  • E-Magazine
  • Politik
  • Lampung
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
  • Pendidikan
  • Olahraga
    • Kesehatan
  • Ekonomi

© 2020 Portallnews.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist